Rabu, 26 Desember 2012

Jumlah Provinsi di Indonesia Sekarang | Tahun 2012


Berikut ini nama-nama provinsi dan jumlah provinsi di Indonesia sekarang :
NO.PROVINSIJUMLAH
KABUPATENKOTATOTAL
1NANGROE ACEH DARUSALAM18523
2SUMATERA UTARA25833
3SUMATERA BARAT12719
4RIAU10212
5JAMBI9211
6SUMATERA SELATAN11415
7BENGKULU9110
8LAMPUNG12214
9KEP. BANGKA BELITUNG617
10KEP. RIAU527
11DKI JAKARTA156
12JAWA BARAT17926
13JAWA TENGAH29635
14BANTEN448
15JAWA TIMUR29938
16YOGYAKARTA415
Dari 16 provinsi di atas, Pulau Sumatra terdiri dari 10 provinsi, dan 6 provinsi di Pulau Jawa. Dan DKI jakarta adalah ibu kota negara Indonesia. Untuk kolom yang berada di kanan, adalah jumlah dari kabupaten dan kota yang berada di tiap-tiap provinsi.

17BALI819
18NUSA TENGGARA BARAT8210
19NUSA TENGGARA TIMUR20121
20KALIMANTAN BARAT12214
21KALIMANTAN TENGAH13114
22KALIMANTAN SELATAN11213
23KALIMANTAN TIMUR10414
24SULAWESI UTARA11415
25SULAWESI TENGAH10111
26SULAWESI SELATAN21324
27SULAWESI TENGGARA10212
28GORONTALO516
29SULAWESI BARAT505
30MALUKU9211
31MALUKU UTARA729
32PAPUA28129
33PAPUA BARAT10111
Di pulau Bali, masih terdapat 1 provinsi saja, dilanjutkan Nusa Tenggara yang terbagi menjadi 2, Pulau Kalimantan sebanyak 4, Sulawesi berjumlah 6, Maluku menjadi 2 dan terakhir adalah Papua menjadi Provinsi Papua dan Papua Barat.
Dari data di atas kita sudah mengetahui berapa banyak provinsi di negara kita ini. Sekarang bukan 27 namun Jumlah Provinsi di Indonesia Sekarang Tahun 2012 adalah 33 provinsi. Kemudian, jumalh kabupaten di Indonesia sebanyak 399 dan 98 Kota. Total semuanya kabupaten dan kota sebanyak 497.
Kemudian yang selanjutnya adalah nama-nama ibu kota tiap-tiap provinsi :
NANGROE ACEH DARUSALAM; Nama Ibu Kota : Banda Aceh
SUMATERA UTARA; Nama Ibu Kota : Medan
SUMATERA BARAT; Nama Ibu Kota : Padang
RIAU; Nama Ibu Kota : Riau
JAMBI; Nama Ibu Kota : Jambi
SUMATERA SELATAN; Nama Ibu Kota : Palembang
BENGKULU; Nama Ibu Kota : Bengkulu
LAMPUNG; Nama Ibu Kota : Bandar Lampung
KEP. BANGKA BELITUNG; Nama Ibu Kota : Pangkal Pinang
KEP. RIAU; Nama Ibu Kota : Tanjung Pinang
DKI JAKARTA; Nama Ibu Kota : Jakarta Pusat
JAWA BARAT; Nama Ibu Kota : Bandung
JAWA TENGAH; Nama Ibu Kota : Semarang
BANTEN; Nama Ibu Kota : Serang
JAWA TIMUR; Nama Ibu Kota : Surabaya
YOGYAKARTA; Nama Ibu Kota : Yogyakarta
BALI; Nama Ibu Kota : Denpasar
NUSA TENGGARA BARAT; Nama Ibu Kota : Mataram
NUSA TENGGARA TIMUR; Nama Ibu Kota : Kupang
KALIMANTAN BARAT; Nama Ibu Kota : Pontianak
KALIMANTAN TENGAH; Nama Ibu Kota : Palangkaraya
KALIMANTAN SELATAN; Nama Ibu Kota : Banjarmasin
KALIMANTAN TIMUR; Nama Ibu Kota : Samarinda
SULAWESI UTARA; Beribu kota di : Manado
SULAWESI TENGAH; Beribu kota di : Palu
SULAWESI SELATAN; Beribu kota di : Makassar
SULAWESI TENGGARA; Beribu kota di : Kendari
GORONTALO; Beribu kota di : Gorontalo
SULAWESI BARAT; Beribu kota di : Mamuju
MALUKU; Nama Ibu Kota : Ambon
MALUKU UTARA; Nama Ibu Kota : Sofifi
PAPUA; Nama Ibu Kota : Jayapura
PAPUA BARAT; Nama Ibu Kota : Manokwari






“Syair Cinta Dalam Istikharahku”


“Syifa, Syifa kamu dimana nak?” terdengar suara Umi dari halaman depan memanggilku, ada apa ya?
“Tok Tok” ada yg mengetuk pintu kamarku,
“Ayo cepat kita sambut Para Da’i yg akan tinggal satu minggu disini 
untuk pelatihan dan membantu mengajar santri di tempat kamu kerja” suara Abi dari depan kamar
“Iya Abi” sahutku pelan
“Lo Kok suaramu gak semangat gitu?” Abi melanjutkan!
“Ini sedang siap siap Abi” sepertinya Abi tau kalau aku malas menyambut mereka, sebenarnya bukan malas sih, tapi aku takut. Takut ga bisa mengontrol diri, dan pandangan ini harus kujaga juga dari mereka. Tapi yah mau bagaimana lagi. Mereka pelatihannya di tempat aku mengajar, nanti mereka juga akan bekerja denganku disana, mau ga mau harus kenal juga kan. Bismillah. Ya Allah semoga Hamba tidak menjadi fitnah bagi mereka nantinya selama kami bekerja sama.
Setelah berjalan beberapa meter sampailah kami di Sekolah tempat aku bekerja, mereka disambut di sana, Semua pihak yg berkaitan dengan MTs Negeri Al-Muttaqin datang menyambut mereka, tak terkecuali aku. Mereka datang berlima, ditemani Pembimbing mereka. 
“Selamat datang di Sekolah kami, MTs Negeri Al-Muttaqin” Pak H. Saiful membuka percakapan sekaligus sambutan untuk mereka. Beliau adalah kepala sekolah disini. Selama beliau menyampaikan pembukaannya, aku hanya menunduk saja sambil mendengarkan beliau, karna aku ga tau harus bersikap seperti apa, memerhatikan wajah mereka satu persatu kan ga mungkin, mengobrol dengan akhwat yg lain? Juga ga mungkin, karna mereka juga menunduk dan hanya memperhatikan beliau.

“Saya persilahkan teman teman dari Pesantren Nurul Musthofa untuk memperkenalkan diri masing masing” Lanjut beliau setelah memberikan kata sambutan.
Merekapun memperkenalkan diri satu persatu dan mataku mengikuti setiap suara dari mereka dan aku menunduk lagi, dan tibalah giliran kami memperkenalkan diri.
Setelah perkenalan selesai, Kepala sekolah lagu menugaskan 5 orang staf sekolah untuk mendampingi mereka. Aku berdoa semoga namaku tidak disebut.
“Syifa, Kamu akan menemani Nabil bertugas selama seminggu ia berada disini” Ternyata, namaku yg disebut pertama kali.
“Iya Pak” Jawabku singkat.

Lalu beliau menugaskan staf yg lain untuk mendampingi yg lainnya.
“Teman teman dari Pesantren Nurul Musthofa akan tinggal di Aula Kantor Kepala Desa, sy sudah meminta izin, Alhamdulillah tidak ada kegiatan seminggu ke depan di Aula dan Beliau mengiyakan. Kami harapkan kehadiran teman teman disini bisa membimbing anak anak didik kami . Sekian dan terima kasih wassalamualaikum wr wb” Beliau menutup pertemuan ini.
Sekarang hari Pertama aku mendampingi Nabil bekerja, Semoga semuanya berjalan lancar. Aamiin ya Rabb. Bismillah!

“Abi, Umi, Syifa berangkat dulu” aku menghampiri Abi dan Umi yg sedang asik berkebun
‘Iya, Hati hati’ mereka menyahut bersamaan.
“Abi, lihat deh anak Abi kok beda ya hari ini, terlihat lebih cantik, rapih dan bersemangat” Umi menggoda Abi
‘Iya Umi, kan mau menemani seorang Da’I’ Abi menambahkan
“’Astaghfirullah, Umi, Abi. Saya kan biasa seperti ini setiap hari, jangan pada ngaco deh, udah mending Abi dan Umi lanjutin berkebunnya berduaan.. Assalamualaikum wr wb”’
Aku segera kabur, Ya Allah… punya orang tua usil banget sih. Tapi jadi kepikiran kata kata Umi, masa iya aku terlihat berbeda kali ini gara gara Nabil? Inikan dandanan ku setiap hari. Baju Gamis yg terlihat seperti daster lengkap dengan kaus tangan dan kaki, Jilbab besar, dan tanpa make up dan parfum. Apa iya?? Astaghfirullah, Ya Allah Ampuni Hamba… jauhkanlah pikiran semacam itu dari kepala hamba…

“Assalamualaikum” tiba tiba ucapan salam membuyarkan lamunanku di persimpangan jalan menuju sekolah.
“Waalaikumsalam” jawabku, ternyata Nabil
“Mau berangkat ke sekolah?” tanyanya lembut
“Iya Akhi” jawabku singkat sambil menunduk
“Kalau begitu saya duluan ya” ia melanjutkan seraya berlalu
Alhamdulillah, Kupikir ia akan mengajak jalan bersamaan.
Tak banyak komunikasi langsung yg terjalin, karena aku menghindari itu, sepertinya dia juga. Kami hanya berbicara seperlunya saja seputar kegiatan di Sekolah. Saya bahkan tidak menanyakan Umur atau No Hp-nya, seperti yg dilakukan staf lain dengan Da’I yg mereka bantu bahkan lebih jauh tentang latar belakang mereka.

Hari Kedua, Semoga Abi dan Umi ga Usil lagi gumamku!
“Abi, Umi. Syifa berang…kat” alangkah kagetnya aku menemukan Abi, Umi, dan Nabil sedang berbincang-bincang di taman belakang.
“Syifa, Buatkan The untuk Abi dan nak Nabil ya” Pinta Umi
“Iya Umi” aku beranjak ke dapur membuat teh, kenapa ya kok pagi pagi Nabil sudah disini? Gumamku heran.
“ Kami sedang mengobrol dengan nak Nabil. Dia kemari menanyakan seputar pengalaman Abi” Umi menjawab rasa penasaran yg terbaca jelas di wajahku, oh ternyata karna itu, kupikir ada apa pagi pagi sekali Nabil datang kerumah, memang sih Abi punya pengalaman yg banyak soal berdakwah.
“Saya berangkat ya, Assalamualaikum” aku buru buru menyela, Alhamdulillah, lolos! 
“Syifa” Deg! Ya Allah kenapa Umi manggil lgi sih?
“Berangkatnya sama nak Nabil saja” Umi menyambung, Ya Allah… Kuatkan Hamba.. Ada apa sih dengan Umi? Abi? Hhh…
“Iya Umi” Langkahkupun terhenti di halaman depan menunggu Nabil muncul dari dalam rumah.
“Ayo berangkat” katanya mendahuluiku,
“Tunggu dulu, saya sedang menunggu seseorang” kelitku, semoga ada siswa yg lewat biar kami jalan bertiga. Alhamdulillah ada Faridh, anak kelas IX yg lewat di depan rumah. Buru buru aku memanggilnya dan mengajaknya berangkat bersama kami. Sepanjang perjalanan kami mengobrol seputar pengalaman masing masing dan kegiatan di sekolah. Rasanya sedikit tenang mengobrol dengannya karna ada Faridh, meskipun begitu entah kenapa hati dan pikiran ini berkecamuk ingin menanyakan banyak hal kepada Nabil, tpi aku berusaha mengontrol diri dengan berdzikir.

Sama seperti kemarin kemarin, kami hanya berkomunikasi seperlunya saja. Menemaninya mengajar, memenuhi kebutuhan sekolah yg ia perlukan, membantunya jika kesulitan berkomunikasi dengan siswa. Tapi dia cepat akrab rupanya dengan lingkungan termasuk para siswa. Caranya mengjarpun luar biasa, tak pernah kulihat siswa seaktif ini dan cepat sekali memamhami materi yg disampaikan, meskipun aku hanya staf biasa, tapi aku juga sering mengamati gerka gerik siswa disini ketika mengantar keperluan guru ke kelas.
Keesokan harinya, Nabil datang lagi kerumah membawa dua orang siswi. Umi memintaku menemani Rani dan Farah sementara mereka mengobrol. Entah apa yg mereka obrolkan. Begitu mereka selesai kami berangkat bersamaan lagi. Seperti biasa tak banyak yg kami bicarakan, sesekali kulihat wajahnya ketika kami terdiam, Subhanallah, ternyata dri mulutnya terlihat jelas dia mengucapkan Lafazd Dzikir. Aku buru buru berpaling dan beristighfar… Ya Allah Kuatkan Hamba!

Entah mengapa aku semakin asik memandanginya mengajar, Ya Rabbi… sesekali kami dan staf beserta Da’I yg lain ke kantin bersama, hanya saja, tidak bercampur, akhwat dengan akhwat dan sebaliknya.. 

Hari ini dia mendapat tugas tambahan memberikan materi tambahan kepada siswa kelas IX, mau tidak mau aku harus menemaninya… perasaanku aneh dan aku tidak tau harus bersikap senang, sedih, biasa, atau takut? Sepertinya aku harus bersikap takut, takut kepada Allah…
Setelah jam usai; 
“Terima kasih, maaf sudah menyita waktu dan merepotkan” katanya ketika kami melangkah keluar dari kelas
‘Tak apa, ini sudah tugas saya’ jawabku pelan
“Dan Maaf, Aku tidak bisa ikut mengantar, biar mereka yg mengantarmu, kurasa itu lebih baik” katanya lagi seraya menunjuk Rani dan Fara.
‘Ya, tidak apa apa, terima kasih, Assalamualaikum, yuk Rani, Farah’ balasku seraya menggandeng tangan mereka, setidaknya aku bisa lega, bisa tidak berada didekatnya, tapi kenapa dengan Rani dan Farah lagi? Apakah mereka sudah seakrab itu? Wallahu a’lam.

Hari inipun Nabil datang, bahkan ia datang disore hari sejak kemarin. Apa tidak ada kegiatannya di Aula sehingga Nabil rutin sekali berkunjung? Apa yg Abi dan Umi obrolkan dengannya? Kenapa mereka terlihat semakin dan sangat akrab? Masa iya selalu menanyakan pengalaman Abi setiap hari kesini? Sampe bela belain ikut berkebun juga? Atau mungkin..??? jangan jangan…?? Dan segudang pertanyaan dan terkaan mencuat dari kepalaku, Lekas lekas aku beristighfar… Ya Allah jauhkan Hamba dari berburuk sangka. 

Matahari sudah mempakkan mega meganya, Nabil pun bersalaman dan pamit.
“Syifa, Antar Nabil kedepan” Pinta Umi
Lagi! Untungnya cuma sampai depan. Tapi ini kesempatan buatku untuk bertanya, tidak! Sanggupkah aku? Tidakkah itu Lancang? Ya Allah… Sejenak otakku bekerja begitu cepat sampai terasa panas dan…
“Akhi, bo.. boleh bertanya seuatu?” aku bertanya terbata
‘Ya, Silahkan’
“Maaf Sebelumnya, mungkin ini tidak layak saya tanyakan karena terkesan ikut campur. Tapi sy benar benar penasaran. Sebenarnya apa yg akhi bicarakan dengan Abi dan Umi?”
‘Aah, saya kira mau bertanya apa dengan muka tegang begitu’ jawabnya dengan senyum simpul, aku lekas menunduk, sepertinya Syaitan sudah bermain main karna entah kenapa ia terlihat… Subhanallah… Astaghfirullah… aku tak layak melanjutkannya, sesungguhnya Pujian hanya untuk-Mu ya Rabb…
‘sy bertanya tentang pengalaman Abi dan Umi, begitupun sebaliknya Ani dan Umi bertanya tentang pengalaman sy’ jawabnya singkat
“Itu saja” Sambungku cepat penuh ingin tau, Maafkan Hamba ya Rabb…
‘Tentu saja kami mebicarakan keadaan sekolah, desa, dan kegiatan kegiatan yg ada sebelum saya datang’ 
“Terus?” dengan cepat kulanjutkan sebelum ia berlalu
‘Terus… yaah itu saja, saya pamit Assalamualaikum’
“Waalaikumsalam” jawabannya yg terakhir jelas seperti ada yg disembunyikan. Terlihat jelas dari raut wajah dan senyum yg dipaksakan. Apa aku tanya Abi atau Umi? Aaah sebaiknya tidak usah, tidak baik akhwat membicarakan ikhwan dihadapan orang tua, apalagi Umi kan suka ngasi ngasi ‘Bumbu’ … tapi aku penasaran sekali… akhirnya kuputuskan mengubur rasa penasaranku dan memilih diam.

Setelah Sholat ‘Isya aku mengerjakan tugas sekolah, makan malam, lalu bersiap untuk tidur. Tiba tiba saja aku memikirkan Nabil. Jujur, dia sosok laki laki Sholeh dimataku, laki laki yg diidamkan oleh wanita sholehah. Meskipun tingkahnya misterius dan agak aneh. Tapi kekagumanku padanya terus bertambah setiap hari… Seandainya saja.. Hmmm… Ya Rabbi… Astaghfirullah, lekas ku buyarkan angan angan itu, aku beranjak dari lamunanku dan mengambil air wudhu, lalu sholat dua rekaat dan tidur.

Astaghfirullah… Mimpi apa aku barusan? Menikah dengan Nabil? Tanpa berlama lama aku langsung mengambil air wudhu dan Sholat Tahajjud, kutenangkan hati dan pikiran dengan Dzikir dan Membaca Quran, setelah itu aku berdoa;
“Ya Allah, jangan kau biarkan hamba mencintai seseorang melebihi rasa cinta hamba kepada-Mu. Jika tiba saatnya hamba merasakan cinta, maka cintakanlah hamba dengan seseorang yg mencintai-Mu melebihi apapun. Agar ia dapat membimbingku semakin dekat dengan cinta-Mu. Engkaulah satu satunya pemilik cinta yg Hakiki, Ya Allah Jauhkanlah hamba dari tipu daya Syaitan yg samar tapi nyata menjerumuskan manusia dengan memperindah maksiat”
Entah mengapa aku berdoa begini? Apakah karena mimpi barusan? Atau karena aku masih meikirkan Nabil? Atau karena perasaan kagumku yg salah kuartikan? Entahlah, aku berdoa semoga syaitan tidak ikut andil dalam hal ini…

Hari kelima, Nabil tidak datang kerumah paginya, aku juga tidak bertemu dengannya di sekolah, padahal teman temannya yg lain datang. Sorenya dia juga tak datang kerumah. Ada apa? Lagi lagi aku dibuat bingung, tapi untuk apa aku bingung? Kenapa harus memikirkannya? Sudahlah!
Malamnya aku terbangun lagi, dengan mimpi yg sama, menikah dengan Nabil. Ada apa ini ya Allah… Tanpa pikir panjang kusucikan diri dan kugelar sajadahku, akupun hanyut dalam dzikir dan tasbih.

Hari Keenam, dia tak datang kerumah maupun kesekolah. Aku jadi sering memikirkannya, melamun sedikit saja pasti langsung memikirkannya. Di sekolah aku berusaha mencari kesibukan setelah semua tugasku selesai agar tidak melamun. Tapi semua sudah beres, benar benar tidak ada pekerjaan. Akhirnya kuajak salah seorang staf untuk menemaniku sekedar ngobrol dikantin, dan aku keceplosan bertanya soal Nabil yg tak pernah kelihatan dua hari belakngan ini.
“Iya sedang sibuk di pesantren menggembleng santri baru dan mengurus surat surat dan syarat syarat yg dibutuhkan nantinya” jawabnya singkat, oh ternyata, kukira ada apa, perasaanku entah kenapa lega mendengar semua ini,
“Oya, besok perpisahan, jangan lupa datang ya” Temanku melanjutkan.
Deg! Deg! Kenapa aku merasa aneh mendengar kalimat ini, seperti tidak mau, tidak siap, dan seketika aku sedih… ya Rabbi… kuatkan hamba, jauhkan hamba dari godaan syaitan yg suka mempermainkan hati manusia dengan bisikian bisikannya yg menjerumuskan…
Aku pulang dengan wajah tidak semangat…
“Kamu kenapa” sapa Abi,
‘Capek’ jawabku malas
“’Nabil kok gak kelihatan? Dia kemana aja?”’ susul Umi dari belakang dengan khawatir seolah olah Nabil adalah anggotak keluarga ini yg dikhawatirkan karna tidak muncul 2 hari saja…
Aku menjelaskan kepada Abi dan Umi apa yg kuketahui, dan mereka langsung terlihat lega.
Aneh. Benar benar aneh. Semenjak Nabil datang, Abi dan Umi jadi aneh, bahkan aku juga jadi aneh, dasar penular virus ‘aneh’ keluhku.

Malamnya aku tak lupa bersujud menenangkan diri, berdzikir menghilangkan pikiran tentang Nabil yg terus menghantuiku. Dan sepertinya itu tidak berhasil!
Aku bermimpi menikah dengan Nabil lagi. Lekas ku berdzikir sekuat hati, mengambil air wudhu, shalat tahajjud dan istikharah. Entah darimana datangnya air mata ini tiba tiba mengucur ketika memikirkan perpisahan dengan Nabil, Ya Allah.. aku terus berdzikir sambil berdoa agar Allah mengusir jauh jauh syiatan yg akan memprkeruh suasana hatiku.. tapi tidak bisa, tetap saja aku semakin sedih dan gundah, setelah kuputusakan membaca Al Quran, aku merasa tenang, berangsur rasa damai menyelusup dalam hati.. Ya Rabb, Sungguh Al Quran adalah obat hati yg paling mujarab…

Sesaat aku termenung dan mengingat kata ustadzahku dulu,
“Ketika Akhwat jatuh Cinta, hendaknya ia banyak mengingat Allah dan berdoa dihindarkan dari godaan syaitan yg terkutuk, Perbanyak Ibadah dan kegiatan positif untuk menyibukkan diri, jika perasaan itu terlalu kuat, mintalah petunjuk kepada Allah, gelar sajadah dan dirikan istikharah. lalu tulislah ungkapan perasaan pada secarik kertas, saat menulis luapkan semuanya disana, emosi, perasaan dan pikiran. Dan jangan melupakan Allah pada tulisan itu”
Semuanya sudah kulakukan, hanya satu yg belum, menulis perasaanku pada secarik kertas..

~~**~~“Syair Cinta Dalam Istikharahku”~~**~~
Ya Allah, buanglah perasaan hamba dari Nabil jika ia bukan calon imamku, aku ingin perasaan cintaku hanya untuk imamku, aku ingin menjaga perasaan ini untuknya, perassan manusiawi yg secuil ini, perasaan manusiawi yg Kau jadikan fitrah untuk setiap insan, aku ingin menjaga perasaan ini agar tetap suci dan hanya untuk calon imamku saja.
ya Rabbi, dilubuk hatiku, aku berharap dia menjadi imamku, tapi jika kehendakMu lain, maka kumohon segera lenyapkan perasaan ini, aku tidak mau memiliki rasa cinta yg salah sasaran , jangan sampai perasaan ini berlabuh pada bukan dermaganya, jangan sampai hamba teriris pada akhirnya ketika ia mengkhitbah wanita lain.
Ya Rabbi, Cintakanlah Hamba pada orang yg Mencintaimu melebihi Apapun, orang yg dapat membimbing hamba menuju Ridho dan cintaMu yg Hakiki
Aamiin ya Rabb!
~~**~~**~~**~~

Paginya, aku buru buru berangkat ke sekolah tanpa sempat merapihkan tempatku menulis semalam, semoga saja aku tidak terlambat, 
“Abi , Umi, saya berangkat dulu” 
‘Abimu sudah pergi ke Sekolah’ Umi Menyahut, 
“Apa? Sekolah?” Aku kaget, kenapa Abi sudah disekolah sepagi ini?
‘Kenapa buru buru begitu?’ Umi bertanya
“Ada perpisahan dengan para Da’I Umi”
‘Iya, Umi tau… ehmm bertemu untuk terakhir kalinya dengan Nabil ya?’ Umi mulai mengusiliku,
“Umi, ini bukan waktunya becanda” aku sedikit kesal
‘weleh weleh, ga biasanya kamu langsung cemberut, sudah bantu Umi angkat bunga dan pot yg ada didepan, Abahmu pergi ga ada yg bantuin’
“Tapi Umi,,”
‘kamu tega ninggalin umi?’ Tampang Umi memelas tapi memaksa,,hhhh
“Iya iya ,, Syifa bantuin” ketusku
‘Yg ikhlas lo ya’ Umi menegerku
Astaghfirullah, Maafkan dosa hamba yg sudah bertabiat kurang baik dengan Umi, aku langsung mencium lutut Umi dan meminta maaf, lekas kuselesaikan tugas dari Umi dan berangkat.
Semoga masih keburu Ya Allah…
Sampai disekolah jam 10, sepi, lengang, seperti tak pernah ada acara apapun, Alhamdulillah, belum dimulai, pikirku… tapi aneh, kok Abi tak terlihat ada disini?
Lalu aku bertanya pada seorang staf yg ada disana, 
“Acaranya sudah selesai” jawabnya!
Ha? Aku merasa kecewa, sangat kecewa, sedih, mataku hampir saja tak sanggup membendung air yg hendak keluar… aku berusaha menegarkan diri, La Hawla wa laa quwwata illa billahil’aliyyil ‘Adzim, sepanjang perjalan aku hanya berdzikir menenangkan diri. Abi satu satunya harapanku, setidaknya aku bisa mendengar kabar Nabil dari Abi. Deg! Astaghfirullah, kamar belum kubereskan, biasanya Umi yg memebreskannya kalau aku lupa dan buru buru. Sekejap saja tubuhku lemas membayangkan kertast itu bila ditemukan Umi dan diberikan pada Abi… kupercepat langkahku, beberapa kali tersandung dan hampir terjatuh, aku sudah tidak memikirkan Nabil lagi, aku sudah mengikhlaskannya, sudah ku kubur bersama kertas itu, tapi kertas itu! 
“Assalamualaikum, aku pulang” suaraku terengah engah dan tergopoh gopoh menuju kamar.
Tidak Ada! Kamarku sudah rapih, kakiku serasa lumpuh, aku harus bagaimana? Kukumpulkan sisa sisa tenaga dan keberanian untuk bertanya pada Umi, begitu keluar mereka duduk dengan serius di ruang keluarga, tanpa pikir panjang akupun duduk berhadapan dengan mereka! Karna aku tau itu juga yg mereka inginkan! Apakah aku kan dihakimi?
“Kamu pasti mencari ini kan?” Abi mengangkat secarik kertas yg membuatku kehabisan tenaga memikirkannya, ternyata sudah ditangan Abi.
‘Maaf Abi’ aku tertunduk menangis,
“Kenapa minta maaf?” Umi bertanya,
“Sekarang lekas buka laci yg ada di kamarmu” tambah umi,
Ada apa disana, kulangkahkan kaki dengan berat, rasanya seperti… menyeret beban yg sangat berat…
Kubuka laci, dan aku menemukan sebuah amplop, kubuka perlahan dan kubaca isinya

~~**~~“Syair Cinta Dalam Istikharahku”~~**~~
Memandangi Wajahmu Mengundang Keindahan
Berbicara Denganmu Mengundang Kegembiraan
Mendengar Ceritamu Mengundang Kesenangan
Menelusuri Pribadimu Mengundang Ketakjuban

Tapi Cinta, Izinkan Aku Menunduk

Aku Takut Buta Jika Terlalu Lama Memandangmu
Aku Takut Bisu Jika Terlalu Lama Berbicara Denganmu
Aku Takut Tuli Jika Terbuai Indahnya Ceritamu
Aku Takut Tersesat Jika Berlebihan Mengagumimu

Aku Tau Kau Adalah Perhiasan Untukku
Aku Tau Kau Adalah Pelengkap Ragaku
Aku Tau Kau Adalah Rahmat Untukku
Dan Aku Tau Kau Adalah Penyempurna Agamaku

Tapi Cinta, Izinkan Aku Menunduk

Aku Tidak Mau Merusak Perhiasanku, Bagian Ragaku, Rahmat Untukku, dan Terlebih Penyempurna Agamaku Jika Aku Tidak Menunduk!

Cinta, Bersabarlah Sampai Saatnya Tiba

Saat Kau Halal Untuk Kupandangi
Saat Berbicara Denganmu Menjadi Hikmah
Saat Mendengarmu Menjadi Tausyiah
Saat Mengagumimu Menjadi Tasykur Ilallah

Cinta, Bersabarlah Sampai Saatnya Tiba

Saat Kau Halal Menjadi Perhiasanku, Bagian Ragaku, Rahmat Untukku, dan Penyempurna Agamaku

Cinta, Bersabarlah Sampai Saatnya Tiba

Saat Aku dan Kamu Mengarungi Jembatan Hidup Ini Dengan Ridha Ilahi Menuju Tempat Keabadian yg Terindah! Ilaa Jannatullaah!

Muhammad Nabil
~~**~~**~~**~~

Bahagia yg sangat membuncah tak terkira melihat nama Nabil di akhir bait Syair Cinta ini, tangisku berderai, terluapkan begitu saja tak terbendung.
“Boleh Umi dan Abi masuk?” Kata Umi dari luar kamar memecah tangisku, segera kuseka pipiku, 
“I.. I iya umi, “ jawabku sesenggukan
“Ini Suratmu,” Abi menyodorkannya begitu saja
“Tiga hari lagi, Nabil akan datang melamarmu bersama orang tuanya, apakah kamu akan menerimanya?”
‘Tentu saja Abi, emangnya Abi ga baca puisi cintanya Syifa untuk Nabil?’ Umi memulai lagi,
Tapi kali ini aku senang mendengar keusilan Umi, Bahagiaku semakin terasa ketika Abi bertanya demikian.. Tapi Aku masih tidak percaya akan dilamar Nabil, kami tak pernah membicarakan keperibadian masing masing, kenapa? Jangan jangan benar? Rutinnya Nabil kesini adalah untuk Ta’arruf? Aku masih membisu, tak bisa berkata kata. 
“A.. apakah Abi dan Umi merestui?” Tanyaku penuh harap..
“Tentu saja” Senyum Abi dan Umi mengembang… Ya Allah… Aku langsung sujud syukur… Terima kasih ya Allah… Alhamdulillah… tangisku pecah lagi dalam sujudku… lalu aku berdiri dengan lututku, mencium lutut mereka berdua… aku bangkit dari lututku dan kupeluk mereka erat dan berkata dengan terisak
“I Iya, Syifa a akan me menerima lama rannya, ter ima ka kasih Umi Aabi” 
Kedua pundakku bergetar dan terasa basah, Abi dan Umi menangis juga…
“Lo kok Abi dan Umi menangis juga” kataku sambil menyeka air mata mereka,
“Kami Bahagia, Semoga Nabil adalah Imam yg tepat yg Allah kirimkan untukmu” Abi dan Umi bersamaan mendoakan..

Aamiin … Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin …

♥ Renungan Dari Cerita Seorang Ibu ♥


Kuserahkan pada Waktu


Kuserahkan pada Waktu
Posted by : Yunie Gemgi
Date : 26 Desember 2012

Pada Senin pagi yang cerah, di sebuah SMA Islam swasta yang terkenal karena siswa-siswinya yang berprestasi, sebuah langkah kaki yang mengendap diantara ratusan letusan langkah kaki, terdengar di sebuah lorong di dalam sekolah itu, sebuah langkah pelan yang tak lain dan tak bukan adalah langkah kaki milikku. Ku sengaja menelusuri lorong ini dengan langkah yang mengendap-endap, bukan karena apa. Di sini aku bukanlah siswa baru yang hendak mendaftar ke sekolah terkenal dengan rasa malu dan canggung di hadapan ratusan siswa-siswi hebat yang mengharuskanku untuk mengendap-endap sehingga tak ada yang menyadari akan kehadiranku. Bukan! Bukan semacam itu, aku hanya… yah… mungkin hanya terbiasa, hanya…
“Hey... Luthfi...!!! Ke mana aja sih dicari dari tadi.” Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seseorang di belakang tempat ku berada. Secara refleks, ku menoleh ke arah suara terdengar. Tampak empat orang sahabatku berdiri tepat lurus di belakangku. Ku melihat salah seorang terdepan dari mereka saling melipatkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke depan ditambah lagi dengan pandangan menyeringai ke arahku, aku hanya dapat menyengir dan menggaruk-garuk kepala belakangku.
Akhirnya, dapat ditebak, kami berlima melangkahkan kaki bersama menuju kelas kami, sebenarnya sih pagi secerah ini aku mau pergi ke kantin dulu, masih malas rasanya langsung menuju kelas, tetapi mau bagaimana lagi, keempat sahabatku ini mengajakku untuk segera memasuki kelas dan dengan alasan untuk belajar bersama segera di pagi ini, karena jam pelajaran pertama ini ada ujian harian. Eh, tunggu, tetapi bukan karena itu aku berjalan mengendap-endap di lorong sekolah, bukan untuk menghindari mereka juga, mungkin aku hanya terbiasa dalam melangkah pelan tanpa menimbulkan suara. Bukan berarti apa.
Di dalam kelas, aku menatap pemandangan ke luar jendela, sungguh rasanya indah, nikmat, dan nyaman merasakannya, dari dalam sini aku dapat merasakan hawa kelembutan pepohonan rindang yang melambai-lambai ke arahku. Anganku terbuai dalam keindahan alam ini, begitu hebat dan kuasanya Sang Pencipta alam ini, dari waktu ke waktu aku masih mampu merasakan betapa semakin menakjubkan alam ini di mataku, walau banyak manusia yang semakin dan semakin banyak merusaknya, seiring ku tumbuh dewasa... Seiring ku tumbuh dewasa...? Ku mengalihkan pandanganku ke arah sahabatku yang asyik berdiskusi mengenai materi pelajaran entah apa itu di pagi secerah ini di dalam kelasku ini. Ya, kelas kami memang berbeda, aku memang masih satu kelas dengan Arif, tetapi tidak dengan yang lainnya. Walau begitu, kami sering berkumpul bersama seperti ini, ya untuk berbincang seperti ini, tetapi kali ini aku tak begitu menghiraukan percakapan mereka. Aku hanya menatap keempat cowok pandai itu. Ya, kini kami sudah dewasa, sekarang kami sudah menginjak kelas tiga SMA, dan sebentar lagi.... kami akan lulus, tentunya. Ya, tentunya kami akan berpisah. Tak terasa. Waktu yang kami jalani bersama selama ini, akhirnya akan berpisah juga. Tetapi, bagaimanapun juga, setiap pertemuan selalu ada perpisahan, bukan?
“Wuoy....” tiba-tiba temanku, Rifky, membuyarkan anganku. “Melamun saja dari tadi. Hayyoo.. mikirin siapa?”
“Halah... siapa lagi? Kayak gak tahu aja.” Arif ikutan menimpali perkataan Rifky. “Paling ya nungguin anak kelas sebelah tuh datang.”
“Iya, ya. Pantas saja dari tadi melihat keluar jendela.” Balas Rifky.
“Sebentar lagi juga kelihatan, Luth.” Kini, Handoko yang biasanya suka bercanda juga ikut-ikutan menimpali. “Eh, tuh, baru saja diomongin, orangnya masuk ke kelas sini.” Mendengar ucapannya seperti itu, entah mengapa kepalaku refleks menoleh ke arah pintu kelas. Sontak ketiga temanku itu tertawa, dan Handoko kembali berkata, “Ketahuan dah... Enggak usah malu-malu gitu sama kita-kita.”
“Huss.... kalian ini ngomong apaan aja sih...” Aku mulai angkat bicara untuk mengusir ucapan mereka yang semakin melantur.
Salah seorang temanku bernama Fandi yang sembari tadi begitu serius memelototin buku di depannya mulai tertawa perlahan dan berkata melerai, “Haha.... Sudahlah kalian ini, mukanya merah tuh.”
*****

Ya, begitulah teman-temanku, selalu ada-ada saja. Mereka selalu bisa saja. Tetapi, yah, namanya juga bersahabat seperti kami ini. Hal seperti itu bisa dianggap wajar. Aku bisa menanggapinya dengan santai, karena memang kami sudah biasa bercanda. Bukan aku saja yang diledekin seperti itu, terkadang kita juga saling meledek. Sebuah ledekan dan candaan yang tidak menyakitkan bagi kami. Yah, begitulah namanya persahabatan kami.
Dan seorang cewek yang sembari tadi mereka sebut-sebut menjurus arah padaku adalah seorang cewek cantik yang tampak anggun dalam buaian jilbabnya –setidaknya bagiku- yang bernama Diah. Cewek cantik yang memang tidak satu kelas denganku, tetapi entah mengapa sering aku lirik. Bahkan, sejak aku kelas satu SMA dahulu, walaupun kami sekelas hanya di kelas duanya saja. Dan keempat sahabatku itu mengetahuinya. Jadi tidak heran jika mereka sering meledekku dan mengait-ngaitkannya dengan sosok cewek itu. Dan seperti biasanya juga, aku bisa menanggapinya dengan santai.
Tetapi kini, kondisinya berbeda, kami sudah kelas tiga SMA, dan sebentar lagi akan lulus, dan akan berpisah tentunya. Mungkin memang benar, kita masih bisa berinteraksi dan masih bisa menjalin persahabatan, tetapi tetap saja kondisinya serasa berbeda. Terlebih lagi, setelah lulus ini, aku akan menempuh ke universitas di luar kota tempatku sekarang berada, dan tentunya akan semakin sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Aku juga tak tahu bagaimana dengan rencana mereka, apakah mereka akan menyebar ke tempat-tempat yang semakin berjauhan, atau bagaimana. Yang pasti, persahabatan kita akan menjadi berbeda.
*****

Hari kelulusan kami semakin dekat, tak terasa waktu berlalu terlampau cepatnya. Tinggal menghitung jari, dan UNAS pun akan kami lalui, setelah itu ...
Aku tak mengerti lagi, aku tak tahu harus berkata apa.
Siang ini, seperti biasa kami berlima sedang beristirahat dan mengobrol bersama di kantin sekolah kami. Aku dan Fandi duduk berjejeran menghadap Arif, Rifky, dan Handoko. Dan seperti biasa juga, percakapan kami melantur kemana-mana. Awalnya, aku mencoba untuk membicarakan perihal UNAS nanti dan juga rencana di masa depan kita semua. Tetapi entah kenapa, bisa-bisanya mereka mengalihkan pembicaraan. Terlebih lagi Handoko, berselang beberapa lamanya dari percakapan pokok kami, tiba-tiba ia berkata, “Eh, Luthfi, enggak menyesal tuh kamu nanti?”
Terkejut dengan pertanyaannya itu, yang entah membahas apa, segera ku balik bertanya padanya, “Menyesal apanya? Apa maksudmu?”
“Itu loh.” Jawabnya sembari mendongakkan wajahnya ke arah sesuatu di belakangku, seperti menunjukkan sesuatu. Sontak saja ku menolehkan wajahku ke sesuatu di belakangku, dengan jelas aku dapat melihat sosok Diah di sana. Dan ketiga sahabatku yang lain yang juga menoleh ke arahnya segera tertawa perlahan. Aku menatap wajahnya dalam sesaat waktu, tiba-tiba aku merasakan dia sepertinya segera menyadarinya, dan menoleh ke arah kami. Aku yang terkejut segera kembali memalingkan wajahku ke arah mereka berempat, dan berkata, “Hey... apa-apaan kamu ini?”
“Ya, benar, Luth.” Rifky ikut menimpali. “Sebentar lagi kita kan lulus, dan tentunya akan berpisah. Mungkin kamu sudah enggak dapat melihat si Diah lagi setelah ini.”
Arif terlihat berusaha menahan tawanya dan ikut berkata, “Iya tuh. Mumpung ada waktu. Kan lumayan bisa untuk memperat komunikasi kalian.”
Kemudian, ucapan Handoko yang memulai percakapan melantur ini, segera mengatakan sesuatu yang semakin menyimpang, “Iya dah. Lama! langsung ungkapin saja ...”
Tanpa memberi kesempatan lagi dia untuk meneruskan ucapannya, aku segera memotong permbicaraan, “Huss.... kalian ini jangan ngomong-ngomong yang aneh-aneh, enggak enak nih di kantin.” Kemudian aku segera menoleh ke arah seseorang di sampingku, Fandi, sahabatku dari keempat sahabat yang lain yang paling tidak aneh-aneh dan paling tidak cerewet dibandingkan yang lainnya. Aku berharap ia akan mengatakan sesuatu yang setidaknya dapat menolongku untuk terbebas dari percakapan aneh ini. “Fandi, katakan sesuatu dong. Nih... anak-anak semakin aneh saja.”
Tetapi sepertinya, jawabannya tidak seperti yang ku harapkan, ia berkata, “Kalau cowok pandai dan yang terkenal hebat di sekolah kita seperti kamu ini, ku rasa enggak bakalan di tolak dah.”
Sontak ku terkejut dan menelan dahagaku dalam-dalam, dan mencoba berkata, “Wuaduch... kalian ini ngomong apaan aja sih. Enggak adakah yang bisa membicarakan sesuatu yang lebih berharga dan lebih waras dari ini.”
Tetapi namanya juga mereka, percakapan saat itu semakin menjadi-jadi. Mereka tertawa mendengar ucapanku, kemudian Rifky segera berkata, “Sudahlah, enggak usah malu gitu, Luth.”
Handoko yang ucapannya sembari tadi semakin menyimpangkan topik, kembali berkata yang aneh, “Nanti pulang sekolah mau ku antar mendatanginya, kah?”
Aku yang mendengarnya  terkejut bukan main, dan berucap, “Hey!!!” Mereka malahan hanya tertawa melihatku. “Nanti kedengaran tahu.”
“Kan kalau tahu lebih bagus, kan? Enggak usah repot-repot mengungkapkannya.” Kata Arif diiringi dengan tawaan mereka bersama.
Sejenak ku menenangkan diri diantara keramaian mereka. Berusaha memikirkan sesuatu yang bisa mengalihkan pembicaraan ini, atau setidaknya yang dapat menolongku saat ini. Ku menjernihkan pikiranku, yang melayang entah ke mana. Handoko yang melihat gelagatku itu segera berkata, “Sudah enggak usah melamun saja, enggak usah dipikirin dah, langsung datangi saja.”
Aku tersenyum ke arah mereka, dan mereka terkejut melihat senyumku, seperti merasa aneh, kemudian aku segera bangkit dari tempat dudukku, menyanggakan kedua telapak tanganku di atas meja dan menatapi mereka satu per satu. Terlihat dengan seksama mereka memandang satu titik ke arahku. Ku tersenyum kembali menatap mereka, kemudian segera berbalik meninggalkan posisiku sebelumnya, dan meninggalkan mereka yang terdiam heran menatapku. Aku segera kembali ke kelasku, mendahului mereka yang termenung.
*****

Seusai jam pelajaran berakhir, ku melangkahkan kaki meninggalkan sekolah, mendahului keempat sahabatku itu. Jarang-jarang aku melakukan hal seperti ini, biasanya kami pergi dan pulang sekolah bersama, berjalan bergerombolan berlima diiringi candaan dan tawaan seperti orang gila. Tetapi tidak kali ini, aku berjalan sendiri meninggalkan sekolah, melangkahkan kaki diantara kerumunan langkah. Sesekali menatap, tersenyum, dan menyapa kepada teman sekolahku yang lainnya. Mereka semua berhamburan keluar seusai bel penanda pelajaran berakhir berbunyi. Ku terus berjalan sendiri tanpa ada yang menemani, hingga beberapa langkah dari sekolah, seperti yang telah ku duga sebelumnya.
Terdengar sebuah suara seseorang memanggil namaku di belakang posisiku melangkah. Empat langkah kaki berlarian kecil mendekatiku. Sudah ku duga. Itu keempat orang sahabatku. Mereka melangkah mendekatiku dan salah seorang dari mereka menepuk pundakku dari belakang. Aku menolehkan wajahku sedikit untuk melihatnya. Handoko yang menepuk pundakku itu segera berkata, “Bagaimana?” Mereka berempat segera berbaris bergerombolan mendekatiku. Seperti ada rasa penasaran di wajah mereka.
“Ya, itu tadi?” Arif segera menimpali perkataan Handoko.
“Bisa-bisanya kau menyelonong pergi dari kami tanpa mengatakan sepatah kata pada kami.” Rifky buru-buru ikut dalam percakapan.
Ku tersenyum melihat gelagat aneh mereka dan berkata dengan nada pura-pura tidak tahu, “Apanya sih? Kalian ini ngomong apaan aja sih?”
Nafas Handoko yang memburu tak menghalanginya untuk segera berbicara dengan nada cepat, “Halah... enggak usah pura-pura lupa gak sadar gitu.”
“Itu tadi loh. Percakapan kita di kantin siang ini tadi.” Rifky berkata dengan nada berusaha tenang.
“Ya, Luth. Kamu tadi jadi mengungkapkannya ke Diah?” tanya Arif padaku.
Aku hanya tersenyum dan menatap ke arah Fandi yang terdiam saja. Handoko yang tak sabaran menanti jawabanku segera memburu pertanyaan, “Jadi, bagaimana?”
Aku hanya berkata, “Bagaimana apanya?”
“Aduh.... kamu ini bagaimana sih? Diterima atau enggak?”
“Kalian ini ngomong tentang apaan sih?”
“Aduh.. Luth! Jangan mengulur dan meruwetkan masalah. Jangan berlagak bodoh gitu. Langsung saja jawab.”
Aku yang melihat gelagat aneh dari mereka, kini berganti aku yang dapat menertawakan mereka. Kemudian ku bercanda dengan mengatakan, “Coba tanya saja pada Fandi.”
Hanya dengan mengatakan hal singkat seperti itu, Handoko, Rifky, dan Arif sekilat mungkin menatap ke arah Fandi dengan mata melotot menanti jawaban. Fandi terkejut tak tahu apa, wajahnya tampak suram melihat ketiga temannya yang memelototi dirinya. Kemudian berkata, “Hah... Apa? Aku tak tahu apa-apa?”
Ketiga temanku menampakkan wajah geramnya dan kembali menatapku. Aku yang menyadari rasa penasaran mereka itu segera berjalan cepat ke depan mereka dan berbalik memandangi mereka sembari berjalan mundur perlahan. Kemudian ku tersenyum dan memandangi wajah mereka satu persatu. Ku menghela nafas sejenak untuk berkata, dan wajah mereka tampak antusias menanti jawabanku.
Segera ku berucap untuk menghilangkan rasa aneh dan penasaran mereka, “Bukankah jodoh kita ada pada takdir Tuhan? Waktu akan terus berjalan semestinya. Dan biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.”
Mata mereka terbelalak mendengar jawabanku. Sementara mereka masih menatapku dengan bingung dan heran, ku segera melangkah mundur dengan cepat. Kemudian, ku berbalik dan berlari meninggalkan mereka, sembari melambaikan tangan kananku tanpa menatap mereka.
>>>#####<<<

Sepuluh tahun kemudian. Ya, sepuluh tahun setelah kejadian itu.
Itu adalah kejadian sepuluh tahun yang lalu, yang masih tersimpan baik dalam benakku, sebuah kenangan masa remajaku. Dan kini....
Selama itu... dengan memegang prinsip hidupku dengan baik.
Seperti yang ku katakan waktu itu.
Waktu akan menjawab semuanya.
Dan kini....
Yah... Beginilah diriku...

Kamis, 06 Desember 2012

Kisah Nyata : GADIS ITU TEWAS DALAM POSISI MENARI


Sebagai pemandi mayat selama 13 tahun di Saudi Arabia ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Ketika ia membuka selimut yang menutupi mayat tersebut ia seketika pingsan. Beberapa wanita datang berusaha menyadarkannya, setelah ia sadar Fulanah segera menemui ibu si mayat tersebut dan bertanya, wahai ukhti seumur hidupku aku belum pernah melihat kondisi jasad yang demikian, aku melihat jasad putrimu dalam keadaan menari (berjoget) apa yang dilakukan putrimu di masa hidupnya??

Sang ibu dengan terisak menceritakan, bahwa putrinya semasa hidupnya menggandrungi musik dan nyanyian. Ia terobsesi dengan musik, terlebih usianya yang baru menginjak remaja (ABG) sulit bagi sang ibu untuk menasehatinya. Ia senang menonton lagu-lagu favorit yang sedang hit dalam video klips, menyukai penyanyi-penyanyi tersebut dengan penuh cinta. Hidupnya hanya di isi dengan nyanyian dan musik.

Suatu hari gadis belasan tahun itu datang dalam sebuah pesta, karena memang ia diundang oleh kawannya. Dalam sebuah pesta tentu saja didalamnya ada nyannyian dan musik. Maka ketika lagu kesayangannya dinyanyikan ia tidak dapat menahan dirinya.Mulailah ia menari (berjoget) dan bernyanyi dengan riangnya. Dalam keadaan yang sangat bersemangat itu tiba-tiba ia terjatuh dan tubuhnya membentur meja di depannya. Ia tak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya berusaha menolongnya dan mereka mendapati gadis itu telah tiada. Dan, tubuhnya kaku (benar-benar kaku dan keras)tidak dapat digerakkan. Dengan posisi tangan meliuk di atas kepala (sebagaimana layaknya orang berjoget).

Setelah mendengar penjelasan sang ibu, Fulanah berusaha memandikan mayat gadis malang itu ia pun berusaha memposisikan jasad sang gadis sebagaimana layaknya mayat yang akan dikafankan. Tapi, subhanallah jasad itu benar-benar kaku seperti batu, ia tidak dapat menekukkan tangan sang mayat, akhirnya ia pasrah membungkus mayat dalam keadaan sebagaimana adanya.

Jika akhir hidup manusia yang menggemari para penyanyi seperti diatas mendapatkan hukuman seperti itu, bisakah kita membayangkan bagaimana keadaan para penyanyi (artis) itu sendiri bila mereka tidak segera bertaubat kepada Allah ?

Tidakkah kita mengambil ibrah ini wahai hamba Allah?? Tidak menjadi jaminan usia yang muda tidak akan diburu ajal? Tidakkah kita takut ketika kita melakukan maksiat tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dengan mendadak? Berapa banyak generasi salaf takut akan kondisi diatas, mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk).Ada diantara mereka yang senantiasa berdoa agar Allah mewafatkan mereka ketika mereka sedang sujud sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Semoga Allah menjadikan kita senatiasa istiqamah dalam ketaatan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.amin.

Sumber: Daurah Syar’iyah Muslimah Mahad Darul Hidayah, Rabwa, Riyadh.
[zilzaal.blogspot,com]

***

Sabtu, 24 November 2012

Soal : Besaran dan Satuan


                                                                                             Nama        :     Fitri Maulida
                                                                                             NPM         :     713501S12045

SOAL

1.            Jelaskan pengertian besaran dan satuan disertai dengan contohnya!
2.            Apa perbedaan antara besaran pokok dan besaran turunan!
3.            Sebutkan contoh dari besaran pokok dan besaran turunan!
4.            Jelaskan sumber-sumber ketidakpastian dalam pengukuran!
5.            Berapakah angka penting dibawah ini :
a.       00,00008
b.      12,0000
c.       8000000
d.      8000,0099888
e.       4,0000000000
Jawab :

1.            Pengertian Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur atau dihitung dinyatakan dengan angka dan mempunyai satuan.
Contoh :
-    panjang, massa, waktu, luas, berat, volume, kecepatan, gaya, daya, usaha.

Pengertian Satuan adalah pembanding dalam suatu pengukuran besaran.
Contoh :
-    meter persegi, meter kubik, meter per sekon, newton, kilogram per meter kubik, watt, joule.

2.            Perbedaan besaran pokok dan besaran turunan :
Besaran Pokok :
-    diperoleh dari pengukuran langsung,
-    mempunyai satu satuan (tidak satuan ganda),
-    tidak diturunkan dari besaran lain.

Besaran Turunan :
-    diperoleh dari pengukuran langsung dan tidak langsung,
-    mempunyai satu satuan lebih dari satu,
-    besaran yang satuannya diturunkan dari besaran pokok atau besaran yang didapat dari penggabungan besaran-besaran pokok.
        
3.            Contoh besaran pokok dan besaran turunan :
Contoh Besaran Pokok :
 











Contoh Besaran Turunan :


















4.            Sumber-sumber ketidakpastian dalam pengukuran.
        
5.            Angka Penting :
a.       00,00008            :     1 angka penting
b.      12,0000              :     6 angka penting
c.       8000000             :    
d.      8000,0099888    :     11 angka penting
e.       4,0000000000    :     11 angka penting

Kamis, 22 November 2012

Manajemen Strategik : Operasionalisasi Strategi


BAB 8
OPERASIONALISASI STRATEGI

            Membahas tahap implementasi suatu strategi pada dasarnya menyoroti tiga tahap yang sangat penting, yaitu : (1) mengidentifikasi sasaran tahunan yang berperan sebagai “pemandu” dalam proses implementasi karena merupakan rincian sasaran jangka pendek yang spesifik diangkat dari sasaran jangka panjang; (2) merumuskan strategi dalam berbagai bidang fungsional yang merupakan terjemahan strategi pada tingkat satuan bisnis yang dikelola menjadi rencana aksi bagi bagian – bagian satuan yang bersangkutan; (3) merumuskan dan mengkomunikasikan berbagai kebijaksanaan untuk digunakan sebagai penuntun bagi para manajer operasional beserta bawahannya dalam pengambilan berbagai keputusan operasional dalam rangka implementasi berbagai strategi yang telah ditetapkan oleh manajemen pada tingkat yang lebih tinggi, termasuk manajemen puncak. Ketiga hal itulah yang menjadi focus pembahasan dalam Bab ini.

1.1       Perumusan Sasaran Tahunan

            Siapapun yang pernah terlibat dalam merumuskan strategi bagi suatu perusahaan dan satuan – satuan bisnis di dalamnya akan mengakui bahwa strategi jangka panjang berperan penting sebagai “rambu–rambu” bagi perusahaan yang bersangkutan. Diketahui pula bahwa berbagai tolok ukur yang lumrah digunakan untuk menilai efektif tidanya strategi yang telah ditentukan antara lain ialah pengsa pasar yang dikuasai, dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham (Return on Investment – ROI), keuntngan yang wajar bagi mereka yang menyisikan sebagian kekayannya sebagai modal perusahaan (Return on Equity – ROE) dan keberhasilan memasuki pasar yang tadinya belum “dijamah”.

            Keberhasilan mencapai berbagai sasaran operasional tahunan sangat penting ditinjau dari tiga kepentingan, yaitu : (a) lebih menjamin suksesnya pelaksanaan rencana jangka panjang yang sifatnya menyeluruh, dalam arti mencakup seluruh perusahaan dan satuan – satuan bisnis yang terdapat di dalamnya, (b) meletakkan dasar yang kuat untuk mengendalikan dan memantau kinerja organisasi, dan (c) sebagai alat pemicu bagi manajemen puncak agar mereka sadar tentang kemungkinan timbulnya permasalahan karena adanya bidang–bidang kegiatan tertentu yang tidak membuahkan hasil pada tingkat yang diharapkan.

Ciri–ciri Berbagai Sasaran Operasional Tahunan

            Yang dimaksud dengan sasaran operasional tahunan ialah pernyataan tentang hal–hal yang diharapkan dicapai oleh bagian–bagian satuan bisnis sebagai sumbangsihnya kepada pencapaian strategi dasar yang telah ditetapkan.

            Oleh karena itu agar benar–benar mampu memberikan sumbangan yang diharapkan demi keberhasilan organisasi sebagai keseluruhan, dalam menentukan berbagai sasaran tahunan itu tiga hal perlu mendapatkan perhatian, yaitu : (a) ciri–ciri sasaran tahunan terutama disoroti dari dua hal, yakni : keterkaitan dengan berbagai sasaran jangka panjang dan sasaran tahunan yang terintregrasi dan terkoordinasikan; (b) konsistensi dalam sasaran tahunan yang tercermin pada adanya tolok ukur dan skala prioritas yang jelas serta dinyatakan secara tajam; (c) berbagai manfaat yang dapat dipetik karena adanya sasaran tahunan.

            Sasaran yang Terintegrasi dan Terkoordinasi. Dewasa ini sering ditekankan oleh para pakar dan praktisi manajemen bahwa salah satu instrument yang ampuh untuk meningkatkan kinerja suatu organisasi dan berbagai komponen yang terdapat didalamnya ialah pendekatan kesisteman. Inti pendekatan kesisteman terletak pada pandangan bahwa dalam suatu organisasi pasti terjadi pembagian tugas sebagai konsekuensi berbagai faktor seperti tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan yang bersifat spesialistik, kekhasan produk yang dihasilkan, aneka ragam kebutuhan dan keinginan pengguna produk, sifat dan bentuk persaingan dipasaran dan berbagai faktor lainnya.

Konsistensi dalam Sasaran Tahunan

            Menurut teori, sasaran tahunan dari berbagai unit kerja, satuan bisnis dan bidang fungsional dapat dikatakan konsisten satu sama lain apabila dalam masing – masing sasaran dinyatakan dengan jelas apa yang ingin dicapai, waktu pencapaiannya dan bagaimana cara mengukur hasil yang dicapai itu

            Adanya Skala Prioritas yang Tajam dan Jelas. Berbagai faktor turut berpengaruh pada timbulnya tuntutan agar dalam mengelola perusahaan dan dalam mengimplemetasikan strategi induk, ditentukan skala prioritas yang tajam dan jelas. Faktor–faktor tersebut pada dasarnya berupa keterbatasan yang melekat pada tubuh organisasi seperti : keterbatasan kemampuan manajerial dan operasional, keterbatasan dana, daya, sarana, prasarana, keterbatasan kemampuan menguasai teknologi tepat guna dan keterbatasan waktu.

Berbagai manfaat dari Adanya Sasaran Tahunan

  1. Terciptanya kejelasan tujuan yang berperan sebagai “bintang penuntun” bagi semua pihak dalam menunaikan kewajiban masing – masing, terlepas dari kompleksitas organisasi, besarnya, teknologi yang diterapkan, produk yang dihasilkan dan pasaran yang dimasuki.
  2. Telah dimaklumi bahwa sasaran tahunan yang tepat akan mampu menjembatani keinginan yang telah dinyatakan dalam strategi dan kenyataan di lapangan.
  3. Pengendalian pelaksanaan strategi dasar merupakan manfaat lain yang dapat dipetik dengan adanya sasaran tahunan.
  4. Telah dimaklumi bahwa para anggota organisasi, baik yang menduduki berbagai posisi manajerial dan professional maupun mereka yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bersifat teknis dan operasional, akan termotivasi untuk menampilkan kinerja yang memuaskan apabila mereka yakin bahwa dengan tercapainya tujuan organisasi, tujuan mereka pribadi pun akan turut tercapai.


Strategi di Bidang Keuangan

Untuk strategi bidang keuangan karena kerangka waktu bagi strategi bidang keuangan bisa berbeda – beda tergantung antara lain padahal apa yang menjadi sorotan perhatian utama dalam strategi tersebut. Dengan perkataan lain strategi keuangan harus mampu menentukan arah penggunaan dana yang tersedia untuk mendukung strategi perusahaan, baik untuk kepentingan jangka panjang – misalnya dalam waktu lima tahun- maupun untuk kepentingan pencapaian sasaran tahunan.

Strategi di Bidang Penelitian dan Pengembangan
Bahwa kegiatan penelitian dan pengembangan dewasa ini, dan di masa depan, menduduki posisi penting sebagai suatu bidang fungsional. Pentingnya posisi dan peranan kegiatan penelitian dan pengembangan dalam dunia bisnis dewasa ini jelas terlihat antara lain dari besarnya dana yang disisihkan oleh berbagai industri dan perusahaan untuk membiayai berbagai kegiatan penelitian, baik yang sifatnya murni maupun yang terapan.

Strategi di Bidang Produksi

Suatu perusahaan didirikan dan dikelola untuk menghasilkan produk tertentu, baik berupa barang atau jasa, untuk kemudian dipasarkan dan dijual kepada pengguna yang memerlukannya. Dalam strategi induk perusahaan –atau dalam strategi dasar berbagai satuan bisnis yang terdapat didalamnya- telah dinyatakan secara umum landasan berpikir dan bekerja dalam bidang produksi yang secara operasional dirinci oleh para manajer produksi.

Strategi Manajemen Operasional

Seluruh proses produksi, pemasaran dan penjualan memerlukan suatu sistem manajemen operasional yang handal dan oleh karenanya dapat dikatakan merupakan suatu bidang strategi yang amat sangat penting sifatnya.

Strategi dibidang manajemen operasional sangat penting dirumuskan dan ditetapkan secara tepat karena strategi tersebut harus mampu menuntun para manajer yang bersangkutan, yaitu para manajer operasional, dalam mengambil keputusan mengenai berbagai hal tersebut seperti : (a) sifat dasr dari sistem manajemen opersional dalam perusahaan, (b) keseimbangan antara berbagai berbagai masukan dan keluaran, (c) lokasi berlangsungnya kegiatan operasional, (d) rancang bangun fasilitas kerja dan (e) perencanaan dan penyusunan program operasional yang terjadi dari hari ke hari.

Dari pembahasan dimuka kiranya menjadi jelas bahwa suatu strategi dalam bidang manajemen operasional harus mampu memperlancar proses pengambilan keputusan yang antara lain menyangkut : (a) tingkat inventaris yang tepat, (b) prosedur pembelian, (c) pengendalian mutu, (d) biaya yang harus dipikul untuk mempertahankan mutu produk, (e) tingkat produktivitas kerja, (f) jadwal produksi, (g) jaminan penyerahan produk kepada distributor, agen, pengeceran serta penugasannya, (i) penggunaan fasilitas kerja dan (j) penghapusan sarana dan prasaran karena tidak efisien lagi apabila terus digunakan.

Strategi di Bidang Sumber Daya Manusia

Dalam strategi di bidang manajemen sumber daya manusia harud tergambar dengan jelas segala bentuk dan jenis langkah yang harus diambil yang menyangkut manajemen sumber daya manusia serta telah ditetapkan pada tingkat manajemen yang lebih tinggi.

PERUMUSAN DAN KOMUNIKASI KEBIJAKSANAAN

Yang dimaksud dengan kebijaksanaan ialah keputusan yang berperan sebagai petunjuk dalam cara berpikir dan bertindak bagi para manajer dan bawahannya dalam rangka operasionalisasi strategi organisasi yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak. Kebijaksanaan sangat penting peranannya sebagai pemandu kegiatan pengendalian yang diperlukan agar sasaran organisasi tercapai dengan tingkat efisiensi, efektivitas dan produktivitas yang setinggi mungkin.

Berbagai peranan kebijaksanaan dalam operasionalisasi strategi perusahaan antara lain ialah :

  1. Kebijaksanaan menyangkut pengawasan tidak langsung oleh manajemen puncak terhadap berbagai kegiatan operasional dengan menetapkan tata cara pelaksanaan berbagai proses dan kegiatan dalam organisasi. Artinya, betapa pun tingginya kemampuan dan dedikasi para pelaksana kegiatan opersaional, terdapat pembatasan kebebasan mereka untuk bertindak.
  2. Kebijakan berperan dalam menentukan cara penanganan yang berbagai kegiatan yang sejenis. Dengan perkataan lain, kebijaksanaan yang tepat akan mempermudah koordinasi serta akan sangat mengurangi kemungkinan terjadinya friksi antara berbagai satuan kerja dalam organisasi.
  3. Sebagai “peraturan pemerintah” kebijaksanaan akan sangat mempermudah pemecahan berbagai masalah yang dihadapi, terutama permasalahan yang timbul berulang kali karena berbagai pihak yang terlibat telah mempunyai pengalaman dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.
  4. Kebijaksanaan yang tepat sangat membantu dalam melembagakan perilaku para anggota organisasi sedemikian rupa sehingga berbagai praktek yang saling bertentangan dapat dikurangi karena setiap orang mengetahui dengan pasti pola perilaku yang bagaimana yang harus ditampilkan serta pola kerjasama tim yang bagaimana yang harus ditumbuhkan dan dipelihara
  5. Kebijaksanaan yang dirumuskan dengan tepat akan sangat mengurangi ketidakpastian dalam penyelesaian suatu permasalahan yang dalam kegiatan sehari – hari dialami berulang kali yang pada gilirannya akan memperlancar upaya koordinasi dalam pelaksanaan tugas
  6. Pentingnya peranan kebijakan yang dirumuskan dan ditetapkan secara tepat terlihat pula dalam upaya mengatasi kecenderungan yang mungkin terdapat dalam organisasi untuk menolak perubahan, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat kelompok
  7. Kebijakan yang jelas dan tepat akan memungkinkan para manajer operasional untuk memusatkan perhatian pada upaya menyelesaikan berbagai permaslahan baru yang timbul dan tidak justu disibukkan oleh kegiatan pemecahan pada masalah – masalah rutin dan repetitive yang cara pemecahannya telah ditunjukkan oleh pengalaman dimasa lalu dalam menyelesaikan permasalahan sejenis.
  8. Akhirnya, suatu kebijaksanaan yang tepat menyediakan suatu mekanisme kerja bagi para manajer operasional untuk mengelakkan terjadinya pengambilan keputusan yang tergesa gesa dan tidak matang jika terjadi perubahan dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan operasional.